Prabowo, Hewan-Hewan, Dan Matinya Bahasa

Prabowo, Hewan-Hewan, dan Matinya BahasaIqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)

Jakarta -Pak Prabowo bisa mengobrol dengan hewan-hewan. Dia paham bahasa semut, bahasa nyamuk, bahasa kuda, bahasa anjing, dan entah bahasa binatang apa lagi. Saat makanannya dikerubuti semut, Pak Prabowo tak mau masakan itu dibuang. Ia cukup berbincang sebentar dengan semut-semut di hadapannya, kemudian pasukan binatang mungil itu pun bergerak menyingkir.

Hahaha. Hahaha. Entah berapa juta orang yang tertawa terpingkal mendengar cerita-cerita itu. "Wow! Prabowo titisan Sulaiman! Titisan Sulaiman telah datang! Hahaha!"

Syukurlah, saya tidak ikut tertawa. Saya mencium sejarah amat panjang dari suara-suara tawa itu.

Tentu, kemampuan saya mencium aroma sejarah jauh di bawah kemampuan Pak Prabowo dalam berbicara dengan hewan-hewan. Penciuman saya cuma berasal dari pergulatan yang tidak mengecewakan usang dalam memikirkan bangsa hewan. Ya, memikirkan saja, bukan berinteraksi. Terus terang, saya bukan penyayang hewan. Satu-satunya binatang yang saya sayangi hanyalah kambing, itu pun kalau si kambing muncul dalam format irisan kecil-kecil bersama lumuran bumbu kecap.

***

Dalam bukunya Sapiens, bahkan kemudian disambung dan ditegaskan lagi di Homo Deus, Yuval Harari pun bercerita ihwal hewan-hewan. Nun ribuan tahun silam, pada Era Berburu dan Mengumpul, insan hidup bersama alam, termasuk bersama hewan-hewan. Kita membuatkan ruang hidup bersama, membuatkan sumber daya bersama, berkomunikasi satu sama lain bersama-sama. Manusia mengambil apa pun dari alam seperlunya, makan-minum secukupnya.

Kaum pemburu dan pengumpul mirip musafir. Mereka senantiasa berpindah-pindah, konsep menetap belum dikenal. Ketika sumber daya di suatu wilayah tidak cukup lagi menarik hati, pergilah kaum pemburu itu. Agar gampang bergerak, mereka tidak membawa beban banyak. Dalam kumpulan insan yang terus bergerak, koleksi properti jadi tak berguna, penumpukan logistik yang terlalu berlebih pun sia-sia. Di alam pikiran demikian, istilah hak milik pribadi tidak dikenal sama sekali.

Semuanya berubah drastis semenjak domestikasi. Baik domestikasi tanaman, maupun domestikasi hewan. Datanglah apa yang disebut dengan Revolusi Pertanian. Kehidupan menetap dimulai. Rumah-rumah tinggal dibangun. Properti dikumpulkan, hak milik ditegaskan, hama-hama pengganggu kehidupan yang menetap itu dijauhkan.

Manusia menciptakan batas-batas area. Petak-petak tanah menjadi hak milik. Apa yang sebelumnya dibagi sebagai ruang bersama, kini diprivatisasi sebagai milik satu spesies saja. Seiring pengusiran hama-hama, interaksi dengan hewan-hewan lain pun lenyap perlahan-lahan. Dengan ketiadaan interaksi, jelas, lenyap pula kemampuan berkomunikasi.

Sudah 10.000 tahun berlalu semenjak dimulainya Revolusi Pertanian. Sudah sepuluh milenium semenjak kita meninggalkan kemampuan berkomunikasi dengan hewan-hewan. Kita kini tak lagi mengingat sedikit pun kemampuan itu, dan tidak berkepentingan sedikit pun dengan itu. Antroposentrisme, alias paham bahwa insan merupakan sentra semesta, mencapai puncak kejayaannya. Di gugusan tangga hierarki peradaban, hewan-hewan selain Homo sapiens pun berposisi sebagai subordinat belaka.

Dalam kitab-kitab suci milik agama-agama, kemampuan berkomunikasi dengan binatang masih dimunculkan meski cuma sedikit saja. Namun, secara umum, antroposentrisme berkoalisi dengan agama-agama, kemudian menetapkan keyakinan bahwa hewan-hewan (juga apa pun yang ada di muka bumi) diciptakan Tuhan semata-mata untuk mengabdi kepada kepentingan manusia.

Hasilnya, kita kemudian memang masih berinteraksi dengan hewan-hewan, namun dalam porsi sangat minim dan berpola interaksi pengabdian. Ayam-ayam dikembangbiakkan demi penumpukan laba, sapi-sapi digemukkan demi industri, babi-babi diternakkan demi kejayaan korporasi. Kita memang "berinteraksi", tapi sama sekali tidak berkomunikasi.

***

Maka, hari ini, berjuta orang beramai-ramai menertawakan Pak Prabowo. Kelakuan berbicara dengan binatang bukan lagi cuma menjadi kemampuan yang terlupakan secara komunal selama 10.000 tahun masa. Ia bahkan hanya dianggap sebagai dongeng, atau dagelan tak berkelas. Berbicara dengan binatang diposisikan tak lebih dari imajinasi orang yang kelebihan takaran halusinasi.

Itu bagi orang yang tidak percaya bahwa Pak Prabowo bisa berbicara dengan hewan. Bagi yang percaya, tetap saja posisi kemampuan itu bukanlah kemampuan normal apa adanya. Ia dilihat sebagai kemampuan supranatural. Kesaktian. Setara debus, santet, atau Ajian Jaran Goyang.

Sementara, satu hal ditempatkan dalam kategori supranatural lantaran ia memang jauh melampaui apa-apa yang natural. Yang natural itu ya insan berkomunikasi dengan sesama manusia, begitu rumus bakunya. Jika ada insan bisa berkomunikasi dengan yang non-manusia, itu dianggap tidak natural. Ia dianggap melampaui yang natural-natural, atau bahkan sama sekali berada di luar koridor hal-hal natural. Ia supranatural.

Hal-hal yang dianggap supranatural ini bukan cuma urusan komunikasi dengan hewan. Bahkan komunikasi dengan apa saja. Dengan pepohonan, misalnya. Atau dengan gumpalan awan-awan.

Karenanya, saya pribadi sebagai produk zaman ini terkekeh-kekeh membaca novel Celestine Prophecy-nya James Redfield. Penggambaran ihwal para petapa yang berbisik-bisik di hadapan sayur-mayur supaya tetumbuhan itu berkembang lebih cepat, lebih bahagia, dan lebih segar tak lebih dari tutorial ilmu sihir di benak saya. Sama nasibnya dengan Hamzah, waktu itu masih mahasiswa Filsafat UGM, yang dijadikan materi gurauan lantaran menjalankan profesi sebagai pawang hujan. Saat ditanya bagaimana ia memindahkan awan-awan itu, Hamzah menjawab, "Ya diajak ngomong saja, dirembuk baik-baik."

Semua itu benar-benar jadi dagelan untuk zaman ini. Semuanya supranatural belaka. Karena masuk ranah supranatural, ia bukan natural. Karena bukan wilayah natural, ia tidak dibicarakan oleh sains. Bukankah sains memang hanya berurusan dengan alam, dengan hal-hal yang dianggap natural?

Dan, lantaran tidak diakomodasi sains, semua itu serta-merta dipandang sebagai tidak ilmiah. Karena tidak ilmiah, habislah mereka, alasannya yang muncul kemudian eksklusif berupa cap kuno, bodoh, primitif, dan terbelakang. Ya, terang primitif, alasannya jauh dari nalar efektivitas masyarakat modern.

Bukankah konyol sekali kalau pada zaman ini kita masih menjalankan hal-hal yang tidak efektif dan efisien? Untuk apa harus mengajak bicara hewan-hewan, kalau mereka cukup digiring, dimasukkan ke kandang-kandang, untuk kemudian dipotong dan diperdagangkan? Kenapa harus bicara baik-baik dengan awan-awan, kalau kendaraan beroda empat dan gedung-gedung besar sudah sangat memadai sebagai solusi melawan guyuran air hujan? Buat apa harus berembuk dengan pepohonan di rimba belantara berikut makhluk-makhluk mistik penunggunya, kalau tindakan yang paling menguntungkan secara cepat ialah membawa chainsaw raksasa, membabati batang-batang pohon itu dengan paksa, kemudian meleburnya jadi bubur pulp untuk menciptakan buku-buku, dan di buku-buku itu nantinya kita bisa membaca banyak teori ihwal pelestarian alam?

***

Persis dengan nasib banyak bahasa di dunia yang telah mati, bahasa yang menghubungkan insan dengan alam pun mati, bahkan jauh lebih dulu mati. Saya sendiri tidak yakin-yakin amat dengan paparan Mas Yuval Harari. Toh, ia juga cuma berspekulasi. Meski demikian, melihat pawang singa dan macan masih eksis dan digaji rutin di Bonbin Gembiraloka, melihat banyak orang begitu lekat secara emosional dengan anjing-anjing piaraan mereka, mau tak mau saya membuka diri kepada kemungkinan-kemungkinan itu.

Ya, contohnya kemungkinan bahwa Pak Prabowo memang bisa berbicara dengan semut-semut. Kenapa tidak? Saya toh juga berencana akan berbicara baik-baik, dari hati ke hati, dengan kelinci-kelinci piaraan anak saya. Saya akan bilang kepada mereka bahwa menggigiti kabel internet dan tali sepatu sampai putus mungkin memang asyik dan menyenangkan, tapi buat bangsa insan tidak mengecewakan menyebalkan.

Yang pasti, ada satu rujukan yang akan terus berulang dalam mata rantai sejarah. Pada suatu masa, kita punya suatu kemampuan tertentu. Seiring proses perjalanan waktu, kita akan membuang kemampuan itu, ribuan tahun kemudian menertawakannya, sembari menyangkal bahwa ia pernah ada.

Dua ribu tahun dari sekarang, mungkin kita akan menganggap kegiatan bertemu tatap muka secara fisik dengan para sahabat sebagai sesuatu yang primitif, bahkan supranatural. "Wah, Bambang kemarin ketemu sama Eko! Betul-betul ketemu fisik! Sakti sekali dia!"

Bahkan tiga ribu tahun dari sekarang, bukan mustahil kita akan melihat coblosan presiden sebagai satu prosedur yang berada jauh di luar nalar insan waras. Sangat tidak logis, sangat tidak ilmiah, dan dunia akademis pun tidak sudi membicarakannya. Situasinya akan persis sebagaimana hari ini kita bicara ihwal genderuwo, atau ihwal kemampuan mengobrol dengan margasatwa.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul.


Tulisan ini ialah kiriman dari pembaca detik, isi dari goresan pena di luar tanggung jawab redaksi. Ingin menciptakan goresan pena kau sendiri? Klik di sini sekarang!

Sumber detik.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Prabowo, Hewan-Hewan, Dan Matinya Bahasa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel