Potensi Dan Peluang Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jerman

Potensi dan Peluang Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jerman

Berlin -

Jerman memang dianggap sebagai kawan dagang utama bagi Indonesia untuk menembus pasaran Uni Eropa. Kepala Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damhuri mengatakan, kuatnya perekonomian Jerman dan meningkatnya permintaaan Jerman terhadap produk-produk Indonesia menciptakan korelasi kemitraan kedua negara jadi sangat penting.

"Ada kenaikan ekspor yang menggembirakan, terutama di sektor manufaktur, dan ini nantinya dapat didukung oleh perjanjian perdagangan antara Indonesia dengan Uni Eropa yang kini ini masih dalam tahap negosiasi," kata Yose dalam wawancara dengan Deutsche Welle, awal Maret lalu.

Indonesia ketika ini memang tengah menegosiasikan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan negara-negara Uni Eropa. Tujuan utamanya untuk memfasilitasi dan memberi jalan masuk pasar, meningkatkan perdagangan antara Uni Eropa dan Indonesia serta meningkatkan investasi pribadi di Indonesia.

Negosiasi panjang

Proses perundingan ini udah dimulai semenjak Juli 2016 dan kini telah melewati perundingan tahap keenam yang diadakan 15-19 Oktober 2018 di Palembang, Sumatera Selatan. Negosiasi tahap ketujuh kemudian akan dilangsungkan di Brussels 11-15 Maret 2019.

Salah satu yang menjadi topik pembahasan dalam perjanjian kemitraan ini yaitu transparansi peraturan dan kepastian regulasi. Regulasi yang tidak terang memang masih dianggap sebagai salah satu ganjalan utama dalam berbisnis di Indonesia.

"Kita dapat melihat bahwa nantinya Uni Eropa akan meminta Indonesia menjadi lebih transparan dalam regulasi, begitu juga dengan meningkatkan kepastian di dalam pelaksanaan regulasi tadi."

"Diharapkan dengan adanya perjanjian ini, dapat lebih memajukan perdagangan antara Jerman dan Indonesia. Karena kita melihat Jerman sebagai bab dari Uni Eropa, tidak bangun sendiri," kata Yose Rizal Damhuri. ((BG EKONID))

Perbaikan iklim investasi

Lebih lanjut Yose mengatakan, pemerintah selama ini telah melaksanakan banyak sekali pembenahan guna memperbaiki iklim investasi di Indonesia, di antaranya dengan meluncurkan Paket Kebijakan Ekonomi ke-16 pada November 2018.

"Sudah kelihatan contohnya pada indeks kemudahan berbisnis, hasil Indonesia membaik. Kita harus mengapresiasi hal tersebut, meskipun ini masih jauh dibandingkan dengan kondisi idealnya. Tapi ada perbaikan ke arah sana."

Berdasarkan laporan Bank Dunia ihwal tingkat kemudahan berusaha 2019, Indonesia menduduki peringkat ke-73 dari 190 negara. Angka ini memang masih jauh dari ideal kalau dibandingkan dengan Singapura, yang menduduki posisi kedua.dan Malaysia yang menduduki posisi ke-15.

Masih kalah dibanding negara ASEAN lain

Jakarta dan Surabaya menjadi dua kota yang tercatat melaksanakan perbaikan, antara lain kemudahan memulai berbisnis dengan menggabungkan banyak sekali pendaftaran jaminan sosial dan mengurangi biaya notaris, serta kemudahan mendaftarkan properti. Waktu penyelesaian sengketa tanah di pengadilan tingkat pertama dipercepat dan transparansi pencatatan tanah meningkat.

Duta Besar Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno mengatakan, ketika ini Indonesia menduduki peringkat kelima di Asean dalam perdagangan dengan Jerman. Vietnam ada di peringkat 4, Thailand 3, Singapura 2 dan Malaysia di peringkat 1 dengan nilai perdagangan dengan Jerman mencapai 12,2 miliar dolar AS.

"Jadi kita (Indonesia) hanya pada volume sekitar 5,7 miliar dolar AS. Itu bergotong-royong sedikit sekali, alasannya Indonesia negara besar, punya banyak sumber daya dan sektor manufaktur juga sudah mulai baik." Tetapi Indonesia masih kalah dengan negara-negara tetangga di Asean dalam perdagangan, kata Havas mengingatkan. (hp) ((BG BASF))





Sumber detik.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Potensi Dan Peluang Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jerman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel