Meninjau Lahan Bekas Gusuran Di Kiaracondong Yang Akan Jadi Superblok
Foto: Tri IspranotoBandung -Di atas lahan seluas 13,2 hektare bekas gusuran di daerah Kiaracondong Kota Bandung dikabarkan akan dibangun superblok mewah. Soal ini, Wali Kota Bandung Oded M Danial mengaku belum tahu. Ia hanya mengetahui lahan itu diberikan kepada BUMD PT Bandung Infra Investama (BII) sebagai penyertaan modal.
Sementara ramai di media sosial, di atas lahan itu akan dibangun superblok dengan nama Kiara Artha. Di mana akan ada hotel, kondotel, apartemen, dan juga mal.
"Secara detail, saya kurang tahu, kurang paham. Yang terperinci ini pembangunan kolaborasi PT BII. Apakah betul Super Block atau ibarat apa saya belum tahu," katanya.
Pada 2015 lalu, ketika Ridwan Kamil masih menjadi wali kota, ia menyatakan lahan bekas gusuran itu akan dibangun apartemen rakyat seribu unit dan juga taman. Ribuan warga Jalan Banten, Jalan Karawang, dan Jalan Jakarta yang kena gusur, akan diprioritaskan menempati apartemen rakyat tersebut.
Selasa (3/5/2019) siang, detikcom mencoba menelusuri keberadaan lahan seluas 132.352 m2 tersebut. Jika dilihat dari atas Flyover Antapani atau Jembatan Pelangi, lahan tersebut telah mulai dibangun taman dan sejumlah bangunan lain.
Taman sedang dibangun tak lain Taman Asia Afrika yang dimulai semenjak kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Taman tersebut terpantau masih berupa hamparan rumput dan tanah kosong meski sudah 16 bulan berjalan.
Di titik lain terlihat sudah mulai ada bangunan dalam tahap konstruksi. Terlihat sejumlah pepohonan yang cukup tinggi juga sudah mulai tumbuh di sekitaran lahan tersebut.
Beralih ke belakang, sempurna di Jalan Banten terdapat Kampung Korea. Di tempat ini telah banyak bangunan arsitektur khas negeri gingseng. Meski sudah terbangun dan di dalamnya terlihat banyak properti, tapi lokasi tersebut belum dibuka untuk umum. Bahkan terdapat sejumlah spanduk dengan goresan pena 'Mohon Maaf Kampung Korea Masih Dalam Tahap Pembangunan Segera Akan Dibuka'.
Foto: Tri Ispranoto |
Saat detikcom mendokumentasikan lokasi tersebut dari luar menggunakan smartphone, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tinggi besar tiba menghampiri. Pria yang menggunakan pakain safari hitam tersebut menanyakan maksud pengambilan foto.
detikcom pun memperlihatkan klarifikasi kalau itu untuk kebutuhan pemberitaan, terlebih pengambilan foto dilakukan di luar bahkan di seberang bangunan. Namun orang tersebut meminta biar foto-foto segera dihapus sebab perintah atasannya.
"Hapus saja. Ini dilarang difoto-foto," ujar laki-laki tersebut.
Foto: Tri Ispranoto |
Karena pengambilan foto dilakukan di area umum dan tidak dilakukan di area dalam (privasi), detikcom merasa berhak untuk tidak menghapus foto. Merasa tak terima dengan argumen itu, laki-laki tadi pun memanggil temannya melalui handy talky.
Tak usang seorang laki-laki yang menggunakan rompi dengan banyak sekali atribut, salah satunya logo Satya Wira Wicaksana yang biasa dipakai oleh Polisi Militer (PM) menghampiri. Ia tiba menanyakan maksud sekaligus meminta biar detikcom menghapus foto.
"Hapus fotonya. Ini buat terbit di media apa? Kapan," tanya laki-laki tersebut.
Foto: Tri Ispranoto |
Di ketika bersamaan, laki-laki yang kali pertama menghampiri detikcom mendokumentasikan. Terlihat laki-laki tersebut dengan smartphone warna putih mengambil dokumen mulai dari wajah detikcom, motor sampai detail plat nomor. Bahkan laki-laki tersebut mencoba mendokumentasikan id card yang sebelumnya diminta oleh laki-laki yang menggunakan rompi.
Kedua laki-laki tersebut terus meminta biar detikcom menghapus foto yang telah diambil dengan alasan peritah dari atasannya. Namun sebab tak digubris, keduanya pun eksklusif berlalu masuk ke dalam Kampung Korea.
Sumber detik.com
Foto: Tri Ispranoto
Foto: Tri Ispranoto
Foto: Tri Ispranoto


Belum ada Komentar untuk "Meninjau Lahan Bekas Gusuran Di Kiaracondong Yang Akan Jadi Superblok"
Posting Komentar