Kombes Lisda, Dokter Polwan Yang Pimpin Operasi Dvi Korban Lion Air

Kombes Lisda, Dokter Polwan yang Pimpin Operasi DVI Korban Lion AirKepala Bidang DVI Pusdokkes Polisi Republik Indonesia Komisaris Besar Lisda Cancer (tengah)/Foto: Arief I-detikcom

Jakarta -Operasi identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dipimpin dokter polwan, Komisaris Besar Lisda Cancer. Identifikasi para korban dilanjutkan hingga seluruh body part teridentifikasi.

"Keluarga korban bertanya 'Bu, bila Basarnas setop operasi SAR, DVI juga dong', saya jelaskan kepada keluarga selama bodypart masih ada yang belum diperiksa, kami tidak akan berhenti bekerja," kata Lisda kepada detikcom di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (6/11/2018).

"Apalagi bab antemortem harus siap 24 jam, kan bila ada keluarga yang tiba contohnya dari luar kota, gres hingga semalam dan ingin memberi data antemortem," sambung Lisda.





Kegiatan pertama Tim DVI pada pagi hari yakni menganalisa dan mengevaluasi hasil kerja pada hari sebelumnya. Setelah itu Tim DVI akan memilih kiprah lanjutan yang akan dikerjakan.

"Sebelum kerja, kami analisa dan penilaian dulu, kemarin sudah kerja apa, hari ini mau kerja apa. Di-briefinglah istilahnya," ujar Lisda.

Sementara setiap sore, selama operasi identifikasi korban Lion Air, Lisda menggelar rapat rekonsiliasi hasil identifikasi korban dari bab postmortem dan antemortem.

"Setelah sanggup datanya postmortem, kami sidang rekonsiliasi. Sidang rekonsiliasi yakni kami sudah sanggup data antemortem, postmortem, disinkronkan," terang dia.

"Nanti data antemortem dipaparkan oleh ketua antemortem, data postmortem dipaparkan oleh ketua tim postmortem. Ada data (antemortem dan postmortem) yang cocok, kita perdalam. Ada saja data yang sudah didapat, tapi tidak ada yang cocok dengan antemortemnya," terang Lisda.






Lisda mencontohkan, semisal ada data antemortem berupa foto gigi, sidik jari korban, rekam medis, ada data properti yang korban pakai. Di bab postmortem, belum ada mayat menyerupai apa yang digambarkan dalam data antemortem, itu artinya identitas korban yang dimaksud belum terungkap.

"Dua-duanya (post dan antemortem) punya porsi pembuktian yang sama. Misalnya data antemortemnya lengkap, post mortemnya nggak keluar, ya tidak bisa," tutur dia.

Lisda pun harus bolak-balik mengecek posko antemortem dan postmortem. Untuk diketahui posko antemortem berada di seberang depan bangunan utama RS Polri, sementara posko postmortem berada di bab paling belakang gedung utama.





"Di jalan sering ketemu keluarga korban. Kan ada keluarga korban atau penumpang yang menunggu (proses identifikasi) di sini. Kalau bertemu niscaya mereka bertanya 'bagaimana dok?'," dongeng Lisda.

Lisda mengaku paham dengan kegelisahan keluarga korban. Oleh lantaran itu, di mana pun bertemu keluarga korban, Lisda selalu menjelasan proses identifikasi mayat yang memang memerlukan waktu.

"Saya jalan, ketemu (keluarga korban). Saya ngopi, ketemu keluarga korban. Banyaklah keluh kesah yang saya dengar. Tapi bahagia juga sih, paling tidak saya punya kesempatan menjelaskan pribadi kepada mereka kenapa proses ini lama," diakui Lisda.

"Ditanya 'kenapa usang banget?', nggak hanya sama keluarga, sama wartawan juga. Pressure-nya juga di situ, tapi itu saya gunakan untuk memotivasi tim," imbuh Lisda.


Tidur Empat Jam Sehari

Sembilan hari belakangan, Lisda mengaku bekerja hingga larut malam dan berangkat kembali ke RS Polisi Republik Indonesia sebelum matahari terbit.

"Dari sini (RS Polri) pukul 23.00 WIB, hingga rumah pukul 23.20 WIB. Tidur pukul 00.00, bangkit lagi, berangkat lagi pukul 04.30 WIB," kata Lisda.

Saat tidur pun, Lisda merasa tak nyenyak lantaran terbayang keinginan keluarga korban biar anggota keluarganya cepat teridentifikasi.

"Nggak pernah nyenyak juga tidur. Apalagi keluarga korbannya contohnya 'cepetan, cepetan', dari pimpinan 'Ayo Lisda cepat'," lanjut dia.





Lisda bercerita di tengah kesibukannya selama aktivitas operasi DVI, dirinya juga memikirkan anak keduanya yang sedang dirawat di Gedung Anton Soedjarwo RS Polri.

"Anak saya yang nomor dua lagi sakit, ada di situ. Dirawat inap, gres tadi pagi masuk lantaran demam beberapa hari, nggak turun-turun. Karena saya harus konsentrasi dengan operasi ini, ya sudahlah saya bawa anak saya ke sini, ternyata memang harus dirawat," ungkap Lisda.





Terakhir, Lisda memberikan harapannya biar semua korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP sanggup diidentifikasi oleh timnya.

"Harapan saya semua (korban) sanggup teridentifikasi. Harapan keluarga juga menjadi keinginan saya. Keluarga puas dengan kerja DVI, itu kepuasan saya," ujar Lisda.


Simak Juga 'Siti Nurbaya Beri Kenaikan Pangkat Pejabat KLHK Korban Lion Air':




Sumber detik.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kombes Lisda, Dokter Polwan Yang Pimpin Operasi Dvi Korban Lion Air"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel